Minggu, 14 Juni 2015

Aku tak percaya

 //untuk hati yang tak  percaya


aku yang sudah tidak punya kepercayaan lagi di dunia ini.

pada tuhan, pada diriku sendiri, pada alam, benda, apalagi manusia lain.

aku tidak percaya lagi pada sebuah mimpi, atau uang atau kesenangan.

semuanya penuh dengan teka-teki yang tak bisa dipercayai.

yang dulu aku percaya, mengkhianatiku. haruskah aku percaya pada sesuatu?

aku tidak percaya lagi pada kehidupan, hidup yang katanya juga cuma sekali. aku akan mati. tapi aku bahkan tak percaya bagaimanakah kematian.
Share:

Kamis, 04 Juni 2015

Hari ini kami, aku mati.

Aku mulai berhenti memikirkan. Tentang apa yang akan datang. Atau bagaimana kami akan memandang. Karena yang aku tahu, semua hanyalah bayang-bayang.

Memang ketika kumulai memicingkan mata, ada hal yang terasa salah. Namun ketika angan-angan baru muncul, haruskah kumengalah? Padahal tak semuanya menjadi salah.

Aku tak mengerti, ketika hati ini berlayar membawa seribu ton mimpi, hanya dengan menggunakan rakit tua kecil yang ringkih, sedang ombak ganas yang dihadapi, salahkah bila kuberhenti?

Kini hanyalah berandai bila mata yang buta dipaksa untuk menatap, mulut yang menutup dibuka untuk mengumpat atau kaki yang buntung disambung untuk melompat.

Untuk menolak saja tak sanggup untuk kupatri, yang dapat kulakukan hanyalah melarikan diri ketika kau memintaku melakukan apa yang tak sanggup kuberi.

Bila baris-baris ini berhenti tercipta, berarti nyawa di tubuh ini tak lagi ada. Karena yang dapat dilakukan pikiran dan hati ini hanyalah membuat sebaris kata yang tertuang dari asa, hanya asa.

Aku dan malaikat kecilku yang hilang. Yang dulu pernah menjagaku. Memberiku harapan baru, dan hal-hal indah yang membuatku merasa hidup sungguhlah tidak berat.
Share:

Senin, 06 April 2015

Aku dan sepotong kecil roti


Aku dan sepotong kecil roti
Aku bahkan bukanlah remah roti yang masih kau remah lagi
Bahkan walau aku ingin
Apalagi remah roti
Aku tak bisa jadi
Atau bila ingin aku menjadi bagian dari sepotong kecil roti
Hati inilah yang akan jadi remah
Karena tak bisa

Aku memasukkan diriku pada sebuah adonan yang bahkan belum mengembang
Lalu menunggu
Itupun tak membuat diriku menjadi bagian sebuah roti
Apa ada cara?
Aku mencoba segalanya

Aku dan sepotong kecil roti yang ada di piring yang sama
Hanya saja bersanding, tak jadi satu
Aku bukanlah bagian dari sepotong kecil roti
Roti walau hanya sepotong kecil sangatlah berarti
Aku bahkan tak bisa jadi sedikit remahnya yang tak mungkin lagi bisa berarti
Aku bahkan lebih tak berarti dari sesuatu yang tak berarti

Aku kini hanya menatap sepotong kecil roti
Mencoba untuk menghalangi udara menyusup ke pori pori roti
Mencoba untuk menghalangi debu menyelimuti kulit roti
Mencoba membuatnya tetap menjadi sebuah roti
Walau hanya sepotong kecil roti
Aku tetaplah buka bagian dari sepotong kecil roti
Share:

Kamis, 05 Februari 2015

Setelah sekian lama

Saat bertemu kita berbagi cerita, cerita dimana hanya kita berdua yang tahu
Sepertinya aku tak dapat menghapus, membuang, dan melupakannya
Aku mengedarkan pandangan ke jalan cukup lama
Kenangan yang kusukai saat melewati jalan ini
terus menerus muncul sehingga menghentikan langkah kakiku

Setelah sekian lama hingga saat aku datang kemari saat ini
Aku merindukan masa itu, hingga tanpa sadar aku memikirkan kehidupan saat itu
Karena dirimu yang terus menerus melangkah di mataku
Kenangan saat-saat menghabiskan waktu bersama seperti bintang bertaburan, namun
bagaimana dengan dirimu?

Orang-orang terlihat bahagia
Hanya aku yang sepertinya dibiarkan sendiri, kesepian
Tak ada kepura-puraan, aku memikirkanmu

Setelah sekian lama hingga saat aku datang kemari saat ini
Aku merindukan masa itu, hingga tanpa sadar aku memikirkan kehidupan saat itu
Karena dirimu yang terus menerus melangkah di mataku
Kenangan saat-saat menghabiskan waktu bersama seperti bintang bertaburan, namun
aku menangis

Dapatkah kau melihatku saat aku menantimu di sini?
Dapatkah nantinya aku menyatakan perasaanku?

Aku merindukanmu, bahkan lebih merindukanmu
Karena dirimu, aku hanya tahu tentang dirimu
Kehidupan tanpamu, semua penuh dengan penyesalan
Tanpa dirimu, aku merasakan banyak kehampaan
Hari inipun langkah kakiku merindukan tempat ini, tak dapat beranjak dan memanggilmu
Share:

Rabu, 04 Februari 2015

orang baik

apakah orang baik benar-benar ada?
apakah sekumpulan orang baik akan bisa ada?
adakah orang baik?
akan adakah sekumpulan orang baik?
tidak ada

apakah ada orang yang percaya orang baik benar-benar ada?
apakah ada sekumpulan orang yang percaya sekumpulan orang baik akan bisa ada?
adakah orang yang percaya orang baik benar-benar ada?
adakah sekumpulan orang yang percaya sekumpulan orang baik akan bisa ada?
ada


apakah ada orang yang berusaha menjadi orang yang baik?
apakah ada sekumpulan orang yang berusaha menjadi orang yang baik?
adakah orang yang berusaha menjadi orang yang baik?
adakah sekumpulan orang yang berusaha menjadi orang yang baik?
ada
Share:

Minggu, 01 Februari 2015

menangis

kenapa masih harus menangis apabila air matamu itu tak berdampak apa-apa.
kenapa masih tidak tersenyum apabila inilah saatnya kau bisa berbahagia.
menangislah ketika kamu jatuh, itu akan meringankan rasa sakitnya.
tapi, ketika kamu hanya menangis sampai akhir, itu tak mengubah apa-apa.
bangun, tadahi air matamu, lalu biarkan itu jadi cambuk di dada.
tersenyumlah, bangkit, lalu menangislah lagi ketika buah perjuangan itu telah di depan mata.
.
Share:

Rabu, 31 Desember 2014

aku merindukanmu..

kapan terakhir kali kita bertemu,
kemarin kah? rasanya sudah hampir sejuta hari..
aku merindukanmu..
bagaimana ini?
sesak, guci hati ini penuh oleh kerinduan
sadar aku masih sadar
aku sadar bahwa aku benar merindukanmu
aku merindukanmu..
bagaimana ini?
apakah aku bisa berlari kearahmu sekarang?
melepas rinduku, melepas sesakku?
aku merindukanmu..
bagaimana ini?
haruskah aku pergi?
biar
biar
aku sadar, sadar..
sadar aku merindukanmu
bagaimana ini?
apa yang harus kulakukan?
Share:

Minggu, 14 Desember 2014

aku

puisi aku yang ini bukanlah puisi akunya chairil anwar.
aku bukanlah penyair macam dia, tapi aku memang menyukai puisinya.
tapi puisi aku ini bukanlah milik dia, tapi milikku...
puisi ini menceritakan tentangku..
aku
aku, tiga huruf yang mengisyaratkan ada setiap orang tentang sosok ini.
aku, panggilan diriku pada diriku sendiri.
aku, melambangkan keegoisan dan aku yang berdiri sendiri.

aku adalah sebuah patung yang berdiri diam seperti menunggu lumut menyelimutiku
aku ingin hidup seperti puisi chairil anwar
tapi tidak bisa, kami , aku yang berbeda...
aku tersiksa karena berdiam diri
biarkan aku, biarkan aku...
Share:

Minggu, 07 Desember 2014

sekarang ayahmu berulang tahun.
ucapkan selamat dariku.
lucu ya, ayahmu yang berulang tahun, tapi malah kamu yang aku ingat.
kamu mirip ayahmu. mirip sekali.
hanya bedanya di umur kalian.
aku ingin memintanya untuk selalu menjagamu, tapi tanpa memintanyapun dia pasti melakukannya.
jadi, kumohon jaga dia. hingga mungkin nanti kita bisa bertemu lagi.
bertemu lagi saat dia menggandengmu di altar nanti. semoga.

Share: